Showing posts with label materi kimia. Show all posts
Showing posts with label materi kimia. Show all posts
Thursday, June 29, 2017
by zulandri
11:06 PM
2. Massa Molekul Relatif (Mr)
Contoh Soal :
3. Konsep Mol
4. Hukum Avogadro
contoh soal:
Lanjutkan Materi
Molekul merupakan gabungan dari beberapa unsur dengan perbandingan
tertentu. Unsur-unsur yang sama bergabung membentuk molekul unsur,
sedangkan unsur-unsur yang berbeda membentuk molekul senyawa. Massa
molekul unsur atau senyawa dinyatakan oleh massa molekul (Mr). Massa
molekul relatif adalah perbandingan massa molekul unsur atau
senyawa terhadap 1/12 x massa atom C–12. Secara matematis dapat dinyatakan:
Contoh Soal :
Tentukan Mr H2O apabila diketahui Ar H= 1, dan Ar O = 16.
3. Konsep Mol
Dalam sistem SI, satu mol didefinisikan sebagai jumlah dari materi
yang terdiri dari entitas-entitas (atom-atom, molekul-molekul, atau
partikel-partikel lainnya) sejumlah jumlah atom-atom yang berada dalam
12 gram karbon-12. Nilai jumlah atom tersebut adalah 6,022×1023 yang disebut bilangan Avogadro, NA. jadi dalam satu mol suatu zat terdapat 6,022 x 1023 partikel. Nilai 6,022 x
1023 partikel per mol disebut sebagai tetapan Avogadro, dengan lambang L
atau N.
4. Hukum Avogadro
hukum Avogadro yang menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama,
volume gas yang sama mengandung jumlah molekul yang sama atau banyaknya
mol dari tiap-tiap gas volumenya sama. Berdasarkan hukum tersebut
berlaku volume 1 mol setiap gas dalam keadaan standar (suhu 0° C dan
tekanan 1 atm) sebagai berikut.
Volome gas dalam keadaan standar = 22,4 L
contoh soal:
1. Berapa volume gas CO2 yang massanya 22 g (Ar : C = 12, O = 16) jika diukur pada
tekanan 1 atm? (Mr CO2 = 44)
tekanan 1 atm? (Mr CO2 = 44)
Lanjutkan Materi
by zulandri
8:38 PM
Stoikiometri adalah dasar perhitungan kimia yang menyatakan relasi kuantitatif rumus kimia dan persamaan kimia
Massa molar, }, didefinisikan sebagai massa dari 1 mol entitas (atom, ion, molekul, unit formula) dari materi. Satuan dari massa molar (}) adalah gram/mol.
m = n
N = n. NA
1. Massa Atom Relatif (Ar)
Para ahli menggunakan isotop karbon C–12 sebagai standar dengan massa atom relatif sebesar 12. Massa atom relatif menyatakan perbandingan massa rata-rata satu atom suatu unsur terhadap 1/12 massa atom C–12. Atau dapat dituliskan:
1 satuan massa atom (amu) = 1/12 massa 1 atom C–12
Contoh:
Massa atom rata-rata oksigen 1,33 kali lebih besar dari pada massa atom karbon –12.
Maka: Ar O = 1,33 –> Ar C–12
= 1,33 –> 12
= 15,96
ArX = ( massa atom rata – rata X ) / ( 1/12 massa atom karbon – 12 )
Contoh Soal
lanjutan
Konsep Mol dan Massa Molar (})
Massa molar, }, didefinisikan sebagai massa dari 1 mol entitas (atom, ion, molekul, unit formula) dari materi. Satuan dari massa molar (}) adalah gram/mol.
m = n
N = n. NA
1. Massa Atom Relatif (Ar)
Para ahli menggunakan isotop karbon C–12 sebagai standar dengan massa atom relatif sebesar 12. Massa atom relatif menyatakan perbandingan massa rata-rata satu atom suatu unsur terhadap 1/12 massa atom C–12. Atau dapat dituliskan:
1 satuan massa atom (amu) = 1/12 massa 1 atom C–12
Contoh:
Massa atom rata-rata oksigen 1,33 kali lebih besar dari pada massa atom karbon –12.
Maka: Ar O = 1,33 –> Ar C–12
= 1,33 –> 12
= 15,96
Para ahli membandingkan massa atom yang berbeda-beda, menggunakan skala massa atom relatif dengan lambang ”Ar”.
Para ahli memutuskan untuk menggunakan C–12 atau isotop 12C karena
mempunyai kestabilan inti yang inert dibanding atom lainnya. Isotop atom
C–12 mempunyai massa atom 12 sma. Satu sma sama dengan 1,6605655 x 10–24 g. Dengan digunakannya isotop 12C sebagai standar maka dapat ditentukan massa atom unsur yang lain.
Massa atom relatif suatu unsur (Ar) adalah bilangan yang menyatakan perbandingan massa satu atom unsur tersebut dengan 1/12 massa satu atom C–12.
ArX = ( massa atom rata – rata X ) / ( 1/12 massa atom karbon – 12 )
Contoh Soal
Jika diketahui massa 1 atom oksigen 2,70 x 10–23 g, berapakah Ar atom O jika massa atom C 1,99 x 10–23 g?
lanjutan
by zulandri
6:23 PM
Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit merupakan larutan yang dibentuk dari zat elektrolit. Sedangkan zat elektrolit itu sendiri merupakan zat-zat yang di dalam air terurai membentuk ion-ionnya. Zat elektrolit yang terurai sempurna di dalam air disebut elektrolit kuat dan larutan yang dibentuknya disebut larutan elektrolit kuat. Zat elektrolit yang hanya terurai sebagian membentuk ion-ionnya di dalam air disebut elektrolit lemah dan larutan yang dibentuknya disebut larutan elektrolit lemah.
Larutan Non-Elektrolit
Larutan non elektrolit merupakan larutan yang dibentuk dari zat non elektrolit. Sedangkan zat non elektrolit itu sendiri merupakan zat-zat yang di dalam air tidak terurai dalam bentuk ion-ionnya, tetapi terurai dalam bentuk molekuler.
Jenis – jenis larutan berdasrkan daya hantar listrik
- Larutan elektrolit kuat
- Larutan elektrolit lemah
- Larutan non elektrolit
Tabel 1.1: Perbedaan sifat larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah dan non elektrolit
|
Jenis Larutan
|
Sifat dan Pengamatan Lain
|
Contoh Senyawa
|
Reaksi Ionisasi
|
| Elektrolit Kuat | – terionisasi sempurna – menghantarkan arus listrik – lampu menyala terang – terdapat gelembung gas |
NaCl, HCl, NaOH, H2SO4,KCl |
NaCl Na+ + Cl– NaOH Na+ + OH– H2SO4 2 H+ + SO42- KCl K+ + Cl– |
| Elektrolit Lemah | – terionisasi sebagian – menghantarkan arus listrik – lampu menyala redup – terdapat gelembung gas |
NH4OH, HCN, Al(OH)3 |
NH4OH NH4+ +OH– HCN H+ + CN– Al(OH)3 Al3+ + 3OH– |
| Non Elektrolit | – tidak terionisasi – tidak menghantarkan listrik – lampu tidak menyala – tidak terdapat gelembung gas |
C6H12O6, C12H22O11, CO(NH2)2 C2H5OH |
C6H12O6,C12H22O11, CO(NH2)2C2H5OH |
CARA LARUTAN ELEKTROLIT MENGHANTARKAN ARUS LISTRIK
Larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik karena mengandung ion-ion yang dapat bergerak bebas. Ion-ion itulah yang menghantarkan arus listrik melalui larutan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Michael Faraday, diketahui bahwa jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit akan terjadi proses elektrolisis yang menghasilkan gas. Gelembung gas ini terbentuk karena ion positif mengalami reaksi reduksi dan ion negatif mengalami oksidasi. Contoh, pada larutan HCl terjadi reaksi elektrolisis yang menghasilkan gas hidrogen sebagai berikut.
HCl(aq) → H+(aq) + Cl – (aq)
Reaksi reduksi : 2H+(aq) + 2e- → H2 (g)
Reaksi oksidasi : 2Cl – (aq) → Cl2(g) + 2e-
Larutan elektrolit terdiri dari larutan elektrolit kuat contohnya HCl, H2SO4, dan larutan elektrolit lemah contohnya CH3COOH, NH3, H2S. Larutan elektrolit dapat bersumber dari senyawa ion (senyawa yang mempunyai ikatan ion) atau senyawa kovalen polar (senyawa yang mempunyai ikatan kovalen polar). Zat elektrolit yang terurai dalam air menjadi ion-ion . Beberapa contoh zat elektrolit tersebut adalah sebagai berikut:
NaCl (aq) → Na+ (aq) + Cl– (aq)
HCl (aq) → H+ (aq) + Cl– (aq)
H2SO4 (aq) → 2 H+ (aq) + SO4 2- (aq)
NaOH (aq) → Na+ (aq) + OH– (aq)
CH3COOH (aq ) → CH3COO – (aq) + H+ (aq)
Zat non elektrolit yang tidak terurai menjadi ion-ion, tapi tetap berupa molekul. Contohnya:
C2H5OH (l) → C2H5OH (aq)
CO(NH2)2 (s) → CO(NH2)2 (aq)
HUBUNGAN KEELEKTROLITAN DENGAN IKATAN KIMIA
Senyawa Ion
Sebagai contoh dari kegiatan percobaan yang tergolong larutan elektrolit yang berikatan ion adalah garam dapur. Dapatkah Anda membedakan daya hantar listrik untuk garam pada saat kristal, lelehan dan larutan? Cobalah perhatikan uraian berikut. NaCl adalah senyawa ion, jika dalam keadaan kristal sudah sebagai ion-ion, tetapi ion-ion itu terikat satu sama lain dengan rapat dan kuat, sehingga tidak bebas bergerak. Jadi dalam keadaan kristal (padatan) senyawa ion tidak dapat menghantarkan listrik, tetapi jika garam yang berikatan ion tersebut dalam keadaan lelehan atau larutan, maka ion-ionnya akan bergerak bebas, sehingga dapat menghantarkan listrik. Pada saat senyawa NaCl dilarutkan dalam air, ion-ion yang tersusun rapat dan terikat akan tertarik oleh molekul-molekul air dan air akan menyusup di sela-sela butir-butir ion tersebut (proses hidrasi) yang akhirnya akan terlepas satu sama lain dan bergerak bebas dalam larutan seperti diperlihatkan pada Gambar 1.4.
Reaksi pelarutan NaCl padat di dalam air meghasilkan ion-ion Na+ dan ion-ion Cl – yang masing-masing berikatan dengan molekul-molekul air.
NaCl (s) + air ร Na+ (aq) + Cl–(aq)
Gambar 1.4 Proses pelarutan NaCl padat di dalam air
3.2 Senyawa Kovalen
Senyawa kovalen terbagi atas:
- senyawa kovalen non polar, contoh : F2, Cl2, Br2, I2, CH4
- senyawa kovalen polar, contoh: HCl, HBr, HI, NH3.
Kalau kita perhatikan, bahwa HCl merupakan senyawa kovalen diatomik yang bersifat polar, pasangan elektron ikatan tertarik ke atom Cl yang lebih elektronegatif dibanding dengan atom H. Akibatnya pada HCl, atom H lebih positif dan atom Cl lebih negatif.
Reaksi ionisasinya adalah sebagai berikut :
HCL(aq) –> H+(aq) + Cl–(aq)
Jadi walaupun molekul HCl bukan senyawa ion, jika dilarutkan ke dalam
air maka larutannya dapat menghantarkan arus listrik karena
menghasilkan ion-ion yang bergerak bebas.Wednesday, June 28, 2017
by zulandri
3:19 AM
Proyek Tempat Belajar Online ini kami buat untuk membimbing anda belajar di rumah. Proyek ini akan kami lengkapi dengan, materi, video pembelajaran, latihan, dan ulangan / ujian. Silahkan klik gambar di bawah untuk memilih kelas yang akan dipelajari. Mohon kirim komentar untuk perbaikan.
Tuesday, June 27, 2017
by zulandri
12:15 AM
Perubahan materi adalah perubahan sifat suatu zat atau materi menjadi zat yang lain baik yang menjadi zat baru maupun tidak. Perubahan materi terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Perubahan Materi Secara
Fisika atau Fisis
Perubahan fisika adalah perubahan yang merubah suatu zat dalam hal bentuk, wujud atau ukuran, tetapi tidak merubah zat tersebut menjadi zat baru.
Perubahan fisika adalah perubahan yang merubah suatu zat dalam hal bentuk, wujud atau ukuran, tetapi tidak merubah zat tersebut menjadi zat baru.
Contoh perubahan fisis :
a. perubahan wujud
- es balok yang mencair menjadi air
- air menguap menjadi uap
- kapur barus menyublim menjadi gas, dsb
b. perubahan bentuk
- gandum yang digiling menjadi tepung terigu
- benang diubah menjadi kain
- batang pohon dipotong-potong jadi kayu balok dan triplek, dll
c. perubahan rasa berdasarkan alat indera
- perubahan suhu
- perubahan rasa, dan lain sebagainya
a. perubahan wujud
- es balok yang mencair menjadi air
- air menguap menjadi uap
- kapur barus menyublim menjadi gas, dsb
b. perubahan bentuk
- gandum yang digiling menjadi tepung terigu
- benang diubah menjadi kain
- batang pohon dipotong-potong jadi kayu balok dan triplek, dll
c. perubahan rasa berdasarkan alat indera
- perubahan suhu
- perubahan rasa, dan lain sebagainya
2. Perubahan Materi Secara
Kimia
Adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan terbantuknya zat baru. Perubahan
Adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan terbantuknya zat baru. Perubahan
Contoh perubahan kimia :
a. bensin biodiesel sebagai bahan bakar berubah dari cair menjadi asap knalpot.
b. proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan yang merubah air, sinar matahari, dan sebagainya menjadi makanan
c. membuat masakan yang mencampurkan bahan-bahan masakan sesuai resep menjadi masakan yang dapat dimakan.
d. bom meledak yang merubah benda padat menjadi pecahan dan ledakan
a. bensin biodiesel sebagai bahan bakar berubah dari cair menjadi asap knalpot.
b. proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan yang merubah air, sinar matahari, dan sebagainya menjadi makanan
c. membuat masakan yang mencampurkan bahan-bahan masakan sesuai resep menjadi masakan yang dapat dimakan.
d. bom meledak yang merubah benda padat menjadi pecahan dan ledakan
KLASIFIKASI MATERI
Penyusun materi
Materi dapat tersusun dari substansi
murni atau tunggal yang terdiri dari satu
unsur atau beberapa unsur yang membentuk suatu senyawa.
Materi juga dapat tersusun dari senyawa campuran, yang tercampur secara homogen
atau heterogen.
Substansi murni :
Materi yang mempunyai sifat dan
komposisi tertentu.
Unsur :
Substansi murni yang
tidak dapat dipisahkan menjadi sesuatu yang lebih
sederhana, baik secara fisika maupun kimia, mengandung satu jenis atom. Contoh:
hidrogen,
oksigen.
Senyawa :
Terbentuk dari ikatan antara atom
penyusunnya, dan dapat dipisahkan secara kimia menjadi unsur penyusunnya.
Contoh: air (H2O), gula,
CaCO3.
Campuran :
Materi yang tersusun
dari beberapa substansi murni, sehingga mempunyai sifat
dan komposisi yang bervariasi. Contoh: gula + air menghasilkan larutan gula,
mempunyai sifat manis yang tergantung pada komposisinya.
Campuran homogen :
Mempunyai sifat dan
komposisi yang seragam pada setiap bagian
campuran, tidak dapat dibedakan dengan melihat langsung.
Contoh: garam dapur dan air.
Contoh: garam dapur dan air.
Campuran heterogen :
Mempunyai sifat dan
komposisi yang bervariasi pada setiap bagian campuran,
dapat dibedakan dengan melihat langsung
(secara fisik terpisah).
Contoh: gula dan pasir.
by zulandri
12:02 AM
zulandri11: Dahulu zat kimia diberi nama sesuai
dengan nama penemunya, nama tempat, nama zat asal, sifat zat, dan
lain-lain. Dengan semakin bertambahnya jumlah zat yang ditemukan baik
alami ataupun buatan, maka perlu adanya tata nama yang dapat memudahkan
penyebutan nama suatu zat. IUPAC (International Union Pure and Applied
Chemistry) merupakan badan internasional yang membuat tata nama zat
kimia yang ada di dunia ini. Akan tetapi, untuk kepentingan tertentu
nama zat yang sudah lazim (nama trivial) sering digunakan karena telah
diketahui khalayak. Contohnya nama asam cuka lebih dikenal dibanding
asam asetat atau asam etanoat.
Perubahan dari pereaksi menjadi hasil reaksi digambarkan dengan tanda anak panah. Angka koefisien menyatakan jumlah partikel dari setiap pereaksi dan hasil reaksi. Angka koefisien dituliskan di depan rumus kimia zat, agar reaksi menjadi setara. Reaksi dikatakan setara jika jumlah atom di kiri sama dengan jumlah atom di kanan tanda anak panah, sehingga sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa. Wujud/fase zat ada 4, yaitu:
NaOH dan HCl disebut pereaksi/reaktan
A. Tata Nama Senyawa
Untuk memudahkan penamaan, senyawa dikelompokkan menjadi 2 yaitu senyawa
organik dan senyawa anorganik. Senyawa anorganik dibagi dua yaitu
senyawa biner dan senyawa poliatomik. Senyawa biner adalah senyawa yang
mengandung dua jenis unsur, sedangkan senyawa poliatomik terdiri atas
lebih dari 2 jenis unsur.
1. Tata nama senyawa anorganik
a. Tata nama senyawa anorganik biner
Senyawa biner ada 2 macam, yaitu terdiri atas atom:
- logam dan nonlogam;
- nonlogam dan nonlogam.
Jika senyawa biner terdiri atas atom logam dan nonlogam dengan logam yang hanya mempunyai satu
macam muatan/bilangan oksidasi, maka namanya cukup dengan menyebut nama
kation (logam) dan diikuti nama anionnya (nonlogam) dengan akhiran -ida.
Contoh-contoh tata nama senyawa biner dari
logam yang mempunyai satu bilangan oksidasi
Akan tetapi jika atom logam yang bertindak sebagai kation mempunyai
lebih dari satu muatan/bilangan oksidasi, maka nama senyawa diberikan
dengan menyebut nama logam + (bilangan oksidasi logam) + anionnya
(nonlogam) dengan akhiran -ida.
Contoh-contoh tata nama senyawa biner dari
logam yang mempunyai satu bilangan oksidasi
Jika senyawa biner terdiri atas atom unsur nonlogam dan nonlogam, maka
penamaan dimulai dari nonlogam pertama diikuti nonlogam kedua dengan
diberi akhiran -ida.
Contoh-contoh tata nama senyawa biner (nonlogam-nonlogam)
Jika 2 jenis nonlogam dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa, maka digunakan awalan Yunani.
Contoh-contoh tata nama senyawa biner dari
unsur yang dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa
Senyawa yang memiliki nama umum boleh tidak menggunakan tata nama menurut IUPAC.
b. Tata nama senyawa anorganik poliatomik
Senyawa anorganik poliatomik pada umumnya merupakan senyawa ion yang
terbentuk dari kation monoatomik dengan anion poliatomik atau kation
poliatomik dengan anion monoatomik/poliatomik. Penamaan dimulai dengan
menyebut kation diikuti anionnya.
Contoh-contoh senyawa poliatomik.
Senyawa asam dapat didefinisikan sebagai zat kimia yang dalam air
melepas ion H +. Contohnya HCl, H2SO4, H3PO4. (Materi asam akan dibahas
lebih lanjutdi kelas XI). Penamaan senyawa asam adalah dengan menyebut
anionnya dan diawali kata asam.
Contoh-contoh senyawa poliatomik
2. Tata nama senyawa organik
Jumlah senyawa organik sangat banyak dan tata nama senyawa organik lebih
kompleks karena tidak dapat ditentukan dari rumus kimianya saja tetapi
dari rumus struktur dan gugus fungsinya. Di sini hanya dibahas tata nama
senyawa organik yang sederhana saja, karena senyawa organik secara
khusus akan dibahas pada materi Hidrokarbon dan Senyawa Karbon.
Contoh-contoh senyawa organik yang sederhana
B. Persamaan Reaksi
Persamaan reaksi adalah persamaan yang menggambarkan hubungan zat-zat
kimia yang terlibat sebelum dan sesudah reaksi kimia. Persamaan reaksi
dinyatakan dengan rumus kimia zat-zat yang bereaksi dan hasil reaksi,
angka koefisien, dan fase/wujud zat. Zat-zat yang bereaksi disebut
pereaksi/reaktan dituliskan di sebelah kiri tanda anak panah, sedangkan
zat-zat hasil reaksi atau produk reaksi dituliskan di sebelah kanan
tanda anak panah.
Perubahan dari pereaksi menjadi hasil reaksi digambarkan dengan tanda anak panah. Angka koefisien menyatakan jumlah partikel dari setiap pereaksi dan hasil reaksi. Angka koefisien dituliskan di depan rumus kimia zat, agar reaksi menjadi setara. Reaksi dikatakan setara jika jumlah atom di kiri sama dengan jumlah atom di kanan tanda anak panah, sehingga sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa. Wujud/fase zat ada 4, yaitu:
1. cair/liquid (l);
2. padat/solid (s);
3. gas (g);
4. larutan (aq).
Contoh: natrium hidroksida direaksikan dengan asam klorida menghasilkan natrium klorida dan air.
Maka persamaan reaksinya:
Natrium hidroksida + asam klorida → natrium klorida + air
NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq)+ H2O (aq)
NaOH dan HCl disebut pereaksi/reaktan
NaCl dan H2O disebut hasil reaksi
Dalam persamaan reaksi berlaku jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Pada reaksi tersebut:
Atom Na di kiri 1 dan di kanan 1
Atom O di kiri 1 dan di kanan 1
Atom H di kiri 2 dan di kanan 2
Atom Cl di kiri 1 dan di kanan 1
Jumlah atom di kiri 5 atom sedang di kanan juga 5 atom, maka persamaan
tersebut telah setara. Jika terjadi jumlah atom sebelum dan sesudah
reaksi tidak sama, maka persamaan reaksi tersebut belum setara.
Wednesday, February 1, 2017
by zulandri
7:32 AM
B.
Gaya Antar molekul
Kemampuan menarik yang dimiliki suatu elektron disebut
dengan gaya tarik-menarik. Adanya gaya
tarik-menarik ini memungkinkan terjadinya suatu ikatan. Ikatan kimia terjadi
karena adanya kecenderungan atom untuk memenuhi rumus duplet dan oktet dalam
konfigurasi elektronnya. Kecenderungan ini menyebabkan atom memiliki kemampuan yang
berbeda dalam menarik elektron. Elektronegativitas adalah istilah yang
digunakan untuk menjelaskan daya tarik-menarik atom pada elektron dalam suatu
ikatan.
Bagaimanakah gaya tarik-menarik itu timbul? Suatu atom
dapat membentuk molekul atau ion karena adanya sifat elektronegativitas atau daya
atom menarik elektron. Daya tarik-menarik timbul karena adanya perbedaan
elektronegativitas pada suatu atom. Elektron yang berperan dalam hal ini adalah
elektron pada kulit terluar (elektron valensi). Perhatikan Gambar 2.10 ini.
Pada molekul HCl, atom hidrogen mempunyai satu elektron
pada kulit terluar, sehingga cenderung memenuhi rumus duplet, yaitu dengan
mencari 1 elektron lagi agar genap menjadi dua. Di sisi lain, Cl memiliki 7
elektron pada kulit terluar dan cenderung memenuhi rumus oktet dengan mencari 1
elektron lagi agar genap menjadi delapan. Karena atom H baru memiliki 1
elektron, sementara atom Cl kekurangan 1 elektron, maka ketika jarak antara
keduanya dekat, akan terjadi tarik-menarik dan terbentuklah ikatan. Cl mempunyai elektronegativitas yang lebih tinggi karena
jumlah electron disekitar Cl lebih banyak. Jadi, pasangan elektron yang
tersebar di antara atom H dan Cl tidak terbagi merata. Sisi atom Cl yang lebih
negatif mengakibatkan atom H menjadi sisi positif dan atom Cl menjadi sisi
negatifnya.
Sisi positif dinotasikan sebagai + yang
menyatakan sebagian muatan positif dan sisi negatif dinotasikan dengan – yang
menyatakan sebagian muatan negatif. Dalam molekul, muatan positif dan negatif
yang sama dipisahkan oleh jarak yang menunjukkan suatu dipol. Perbedaan
keelektronegatifan yang besar antaratom akan membentuk molekul yang bersifat
polar. Sebaliknya, apabila perbedaan keelektronegatifan
antar atom kecil atau nol, maka molekul yang terbentuk bersifat non-polar.
Terdapat 3 jenis gaya tarik menarik antar molekul, yaitu gaya
London, gaya tarik dipol-dipol dan gaya yang ditimbulkan oleh ikatan hidrogen. Semuanya
akan kita bahas satu persatu.
1.
Gaya London
Elektron pada suatu atom mengalami pergerakan
dalam orbital. Pergerakan atau perpindahan elektron ada suatu atom dapat
mengakibatkan tidak meratanya kepadatan elektron pada atom, sehingga atom tersebut
mempunyai satu sisi dipol dengan muatan lebih negatif dibandingkan sisi yang lain.
Pergerakan ini menimbulkan dipol sesaat. Gambar 2.11 menggambarkan perbedaan
sebaran elektron pada orbital normal dan orbital yang mengalami dipol sesaat.
Adanya dipol sesaat menyebabkan molekul yang bersifat non-polar menjadi
bersifat agak polar.
Gaya London adalah gaya tarik lemah yang disebabkan oleh
adanya dipol imbasan sesaat. Dipol sesaat pada suatu atom dapat mengimbas atom
yang berada di sekitarnya sehingga terjadilah dipol terimbas yang menyebabkan
gaya tarik-menarik antara dipol sesaat dengan dipol terimbas. Gaya ini yang disebut
sebagai Gaya London.
Pergerakan
elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul akan bertambah
besar apabila molekul tersebut memiliki jumlah elektron yang semakin besar
pula. Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul
disebut polarisabilitas. Jumlah elektron yang besar berkaitan dengan massa
molekul relatif (Mr) molekul tersebut, sehingga semakin besar Mr suatu molekul,
maka semakin besar polarisabilitasnya dan semakin besar pula Gaya Londonnya. Mudahnya
suatu atom untuk membentuk dipol sesaat disebut polarisabilitas. Perhatikan
contoh soal berikut untuk memahami kaitan jumlah electron dengan Mr dan bentuk
molekul.
Bagaimana perbandingan Gaya London antara 2 molekul yang mempunyai
7 Mr yang sama? Molekul dengan struktur panjang mempunyai kemungkinan lebih
besar untuk mengalami dipol sesaat atau lebih mudah mengalami polarisabilitas.
Hal ini dikarenakan molekul dengan struktur panjang mempunyai bidang yang lebih
luas bila dibandingkan dengan molekul yang memiliki struktur lebih rapat dan
kecil. Neopentana dan normal pentana merupakan contoh 2 molekul dengan Mr sama.
2. Gaya Tarik Dipol-dipol
Gaya London terjadi pada molekul non-polar. Lantas bagaimana gaya tarik
yang terjadi pada molekul polar? Molekul polar memiliki sebaran elektron yang
tidak merata dikarenakan perbedaan keelektronegatifannya yang besar. Perbedaaan
keelektronegatifan ini menyebabkan suatu atom terbagi menjadi dua muatan
(dipol), satu ujung memiliki muatan positif dan lainnya bermuatan negatif.
Terdapat kecenderungan bahwa ujung positif akan berdekatan dengan ujung negatif
atom lain di dekatnya. Keadaan ini disebabkan adanya gaya tarik-menarik yang
disebut dengan gaya tarik dipoldipol.
Perhatikan gaya tarik
dipol-dipol pada molekul polar HCl berikut.
Gaya
tarik ini menyebabkan molekul mempunyai titik didih dan titik leleh yang
tinggi. Kekuatan gaya tarik dipol-dipol ini lebih kuat dibandingkan dengan Gaya
London pada molekul non-polar. Tabel 2.2
memberikan perbedaan sifat fisis
antara molekul polar dan non-polar.
Gaya
tarik-menarik antarmolekul, yaitu Gaya London dan gaya tarik dipol-dipol
bergabung untuk mengadakan ikatan antarmolekul. Gabungan kedua gaya ini disebut
sebagai Gaya Van der Walls.
Gabungan
dua gaya tarik-menarik, yaitu Gaya London dan gaya tarik dipol-dipol disebut
sebagai Gaya Van der Walls
3. Ikatan Hidrogen
Apabila kita perhatikan keelektronegatifan dari unsure H2O, HF, dan NH3, atom H mempunyai sifat
sangat positif, sedangkan atom O, F, dan N mempunyai sifat sangat negatif.
Perbedaan keelektronegatifan yang besar ini menyebabkan atom H
terikat kuat pada atom O, F dan N. Ikatan ini yang disebut sebagai ikatan
hidrogen. Perhatikan data Mr dan perbedaan
keelektronegatifan dari beberapa molekul pada Tabel 2.3 di
samping.
Bandingkan elektronegativitas unsur-unsur dalam satu golongan,
seperti yang tertulis pada Tabel 2.3. Tabel ini menunjukkan bahwa dalam satu
golongan, yakni golongan VIIA, kemampuan menarik
dari atom H lebih efektif pada unsur dengan Mr yang lebih kecil,
karena perbedaan elektronegativitasnya yang tinggi. Padahal secara teoritis,
semakin besar Mr semakin besar pula elektronegativitasnya. Mengapa bisa
demikian?
Kasus penyimpangan tersebut disebabkan oleh adanya ikatan
hidrogen. Gaya yang dihasilkan oleh ikatan hidrogen lebih kuat dibandingkan
Gaya Van der Walls. Pada unsur-unsur golongan VII dalam Tabel 2.3, terbentuk ikatan
hidrogen yang kuat dan menyebabkan penyimpangan sifat fisis pada molekul
sehingga molekul dengan ikatan hidrogen mempunyai titik didih yang relatif
tinggi.
Sebelum membahas lanjut tentang ikatan hidrogen, diskusikanlah dahulu
permasalahan tentang gaya antar molekul berikut.
Perhatikan baik-baik titik didih senyawa unsur hidrida golongan
IVA, VA, VIA, VIIA, dan VIIIA pada Gambar 2.15. Gaya yang memengaruhi titik
didih senyawa unsure hidrida golongan IVA, VA, VIA, VIIA, dan VIIIA adalah Gaya
Van der Walls. Dalam satu golongan, dari atas ke bawah, unsur memiliki Gaya Van
der Walls yang semakin bertambah sebanding dengan bertambah besarnya Mr.
Sebagai
akibat yang seharusnya, titik didih dari atas ke bawah dalam satu
golongan semakin bertambah. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Perhatikan
titik didih H2O, HF dan NH3. Ketiganya memiliki titik didih yang berbeda jauh dengan senyawa
hidrida yang lain. Mengapa demikian? Diskusikan jawabannya.
D i s k u s
C. Pengaruh Gaya Antarmolekul terhadap Sifat Fisis Senyawa
Gaya tarik-menarik antara muatan positif dari dipol yang satu
dengan muatan negatif dari dipol yang lain akan menentukan sifat fisis molekul,
seperti titik didih dan titik beku. Gaya tarik-menarik juga menentukan bagaimana
wujud suatu molekul, apakah berupa padatan, cair atau uap.
Gaya tarik-menarik yang besar antaratom memungkinkan molekul pada suhu
tertentu berbentuk padatan. Pada keadaan gas, molekul berdiri sendiri dan tidak
ada gaya tarik-menarik antarmolekul. Pada keadaan cair, akan dibutuhkan lebih
sedikit gaya tarik-menarik antarmolekul diban dingkan
keadaan padatnya.
Perubahan bentuk molekul padatan menjadi cair memerlukan energy yang
besar untuk mengimbangi gaya tarik-menarik tersebut. Energi ini ditunjukkan dengan
titik cair (titik leleh) molekul. Begitu pula untuk menguapkan molekul yang
berupa cairan, diperlukan energi yang ditunjukkan dengan titik didih. Maka,
apabila gaya tarik antarmolekul besar, semakin besar pula
titik didihnya.
Titik
beku menunjukkan besarnya energi yang dibutuhkan molekul untuk berikatan.
Besarnya titik beku sebanding dengan gaya yang terjadi antarmolekulnya.
Perhatikan contoh soal berikut agar kalian lebih paham.
Selanujutnya:
Subscribe to:
Posts (Atom)




















